Oleh : Sri Fajar
(Dirut Penerbit Javamedia, wartawan Bisnis Indonesia – 1994. Lahir dan dibesarkan di Padang Panjang).
Mak-adang.com mendoumentasikan satu tulisan sahabat yang akrab dipanggil PSF, sesuai inisial di Bisnis Indonesia dulu. Foto bersamanya tahun 1995, awal bekerja di sini masih dalam pencarian. Berikut lengkapnya sebagaimana dimuat di Mimbar Minang.
Berikut ini link lengkapnya: /www.beritaminang.com/opini/278/andi-mulya-yang-saya-kenal
Mak-adang.com (JAKARTA).
Pria kelahiran Batusangkar , 5 Januari 1971 ini, berperawakan tinggi, berkulit agak gelap dan berbahasa Indonesia dengan aksen Minang yang kental. Sekali berbicara dengan dia, orang akan langsung paham pria ini berasal dari Tanah Minang karena aksen bahasanya.
Orangnya ramah, mudah bergaul dan tidak jaim. Tetapi dari penampilannya yang low profile itu terkadang memancing orang untuk salah menilai. Seolah-olah segala sesuatu yang bungkusnya sederhana, pasti isinya simple.
Saya suka memanggilnya Datuk. Ya, Datuk Andi Mulya. Dalam konteks adat Minang, Datuk (biasa dilafalkan Datuak) adalah gelar adat tertinggi yang diberikan kepada seorang Penghulu (pemimpin suku atau klan).
IN MEMORIUM: USTAZAH TITIS ‘UPIK’ ANUGERAH, MENGABDI DALAM DIAM
Tetapi dalam konteks saya, panggilan datuk yang saya sematkan kepada Bung Andi Mulya lebih bermakna sebagai “orang yang bijak” atau “orang yang dihormati.” Bukan sebutan formal untuk pemimpin klan Minang yang diwariskan berdasarkan garis keturunan ibu (matrilineal) melalui kesepakatan kaum. Walaupun saya tahu, Andi Mulya faktanya memang secara keturunan, berdarah Datuk. Ia penerus gelar pnghulu Datuk Paduko Sinaro, dari Mamaknya Prof. Husni Rasyid.
Wartawan Bisnis.
Saya mengenal Andi Mulya pertama kali ketika ia diterima sebagai calon wartawan ekonomi Bisnis Indonesia. Koran kami berkantor di Wisma Bisnis Indonesia Lt 5-6 Jl. S. Parman Kav. 12 Slipi Jakarta Barat. Waktu itu Andi Mulya ditugaskan di desk transportasi dibawah asuhan redaktur Mas Budi Wiyono. Sebelumnya di Jasa Perdagangan dibawah Mas Muhaimin.
Di desk ini, kami bahu membahu melakukan kerja reportase dan penulisan bersama sejumlah wartawan yang lebih senior seperti Bang Aidikar M. Saidi, Bang Erwin Nurdin, Pudji Lelono dan Ali Cestar. Bang Aidikar, Bang Erwin dan Ali Cestar, ketiganya dari Padang.
Bang Aidikar, Pudji, dan Cestar sekarang sudah almarhum, hanya Bang Erwin dan saya sendiri, Paulus S Fajar, alias psf yang alhamdulillah masih diberi umur panjang. Bang Aidikar kala itu lebih fokus meliput isyu isyu di sektor kelautan. Hampir setiap hari beliau stand by di Pelabuhan Tanjung Priok, khususnya ketika Pelabuhan Tanjung Priok dipimpin oleh Dirut Bapak Amir Harbani dan Menhubnya Bapak Haryanto Dhanutirto.
Literasi : KETIKA NEGARA ABAIKAN STANDAR PENDIDIKAN
Rasanya tidak ada wartawan di Indonesia yang memiliki pengetahuan lebih luas, detail dan mendalam tentang Pelabuhan Tanjung Priok dibandingkan Bang Aidikar. Bang Aidikar, ibaratnya mengenal Tanjung Priok sampai ke lobang-lobang tikusnya. Tak heran seluruh wartawan maritim Jakarta yang suka ‘ngepost’ di Tanjung Priok menjadikan Aidikar sebagai rujukan.
Sementara Bang Erwin Nurdin lebih fokus meliput isu penerbangan domestik. Pudji Lelono ke isu transportasi darat sambil sekali kali ke penerbangan. Maklum rumah Pudji Lelono dulu berdampingan dengan rumah Dirjen Perhubungan Udara, Bapak Zainuddin Sikado, di daerah Rawa Lumbu. Ia sering dapat bocoran berita dari bapak Dirjen Hubud.
Pudji ini adalah wartawan yang berjasa besar dalam membantu maskapai Lion Air milik Pak Rusdi Kirana mendapatkan izin layak terbang dari Dirjen Hubud. Sedangkan Ali Cestar fokus memantau berita berita penerbangan dan maritim global lewat newswire, agar jika ada berita menarik, bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Dalam konteks distribusi dan pembagian kerja yang sudah sangat mapan dan spesifik, bahkan terkesan sudah seperti dikapling kapling inilah, saya dan Andi Mulya harus berkompetisi mencari berita berita yg eksklusif dan berbobot melintasi semua sektor transportasi. Maka sejumlah berita besar pun satu per satu saya munculkan waktu itu seperti berita penahanan sejumlah kapal Pertamina oleh Ditjen Pajak, kasus Sempati Air yang menunggak pembayaran avtur milyaran rupiah ke Pertamina, likuidasi Merpati Airline, kasus korupsi dalam proyek kapal Caraka Jaya di PT PAL, jatuhnya pesawat Silk Air di Banyuasin, dan berita berita menghebohkan lainnya.
Artikel Bana: KOPERASI RENDANG: STRATEGI PANGAN LOKAL UNTUK INDONESIA JAYA
Sebagai wartawan baru Andi Mulya menghadapi persaingan sengit dengan para wartawan senior di desk perhubungan. Senior sudah tentu sudah menguasai kapling masing masing dan lengket dengan narasumber. Wartawan yang dekat dengan narasumber, akan mudah mendapat berita dari tangan pertama.
Lambat laun Andi Mulya mengikuti irama kerja yang berat. Tetapi saya menjadi saksi, bagaimana sesungguhnya Andi Mulya belum diterima menjadi wartawan Bisnis Indonesia bukan karena underperformance. Tetapi karena dedikasi, kerja keras dan kecerdasan intelektualnya memang belum mendapat tempat yang pas. Ibarat potongan puzzle, dia belum ketemu jodohnya. Di kemudian hari kesaksian saya itu akhirnya terbukti. Selepas dari Bisnis Indonesia, alumnus FPOK IKIP Padang yang pernah menempuh pendidikan di Lembaga Pers Dr. Sutomo Jakarta dan kursus jurnalistik tingkat lanjut di harian KPG/Kompas itu akhirnya lebih memusatkan dirinya ke jalur akademis.
Setelah lulus S2 dari Studi Ilmu Kepolisian di Universitas Indonesia, dia melanjutkan ke jenjang S3 pendidikan keolahragaan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Hingga akhirnya lulus menjadi seorang doktor.
Catatan Harianku (1630): KISAH ALAT TUKANG PAPA
Tapi kecintaannya pada dunia kewartawanan dan dunia olahraga tampaknya tidak pernah padam. Tak aneh setelah lulus S3 dari UNJ itu dia langsung menjabat sebagai Director of the Center for Sport and Media Studies. Sebuah lembaga swadaya fokus pada kajian dan pengembangan jurnalistik olahraga. Puncaknya ketika Andi menulis disertasi di UNJ evaluasi jurnalistik olahraga Majalah TEMPO. Sebagai syarat ujian S3, kajian itu terbit di Malaysian Journal of Media Studies, Universiti Malaya tahun 2019. Selain itu, dia pernah menulis tentang “Bahasa Jurnalistik Olahraga” yg diterbitkan Harian Riau Post (2020).
Sastrawan Gagal menjadi wartawan Bisnis Indonesia, bukan berarti kariernya di dunia tulis menulis kiamat. Sebaliknya ini malah menjadi titik balik bagi kematangannya di dunia jurnalistik dan olahraga, bahkan kepeduliannya pada budaya dan sastra Minang.
Berbagai tulisan dan artikel tentang jurnalisme olahraga tersebar di berbagai media. Tak ketinggalan juga karyanya yang berbentuk buku. Pada tahun 2014, dia pernah menjadi tim editor buku Kementerian Pemuda dan Olahraga RI.
Selama kurun 1995-2019, dia menjadi visiting lecture di berbagai perguruan tinggi di Jakarta, dari Trisakti, UNJ hingga UI. Materi yg diajarkan tidak jauh dari tema-tema tentang creative writting dan sport journalism.
Pada 2010, seiring menjadi tenaga ahli anggota DPR-RI, Andi menulis buku tentang Ensiklopedia Olahraga Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit Angkasa Bandung . Di tengah kesibukannya sebagai speaker di berbagai seminar, trainer, lecture dan researcher, Andi masih sempat mendirikan media online: www.mak-adang.com.
Sebuah situs yang berusaha mengisi ruang era media digital yang serba cepat (real time) namun sering mencederai jurnalisme yang bermutu. Mak Adang menyuguhkan berbagai karya sastra dan kebudayaan Minang dari popular hingga ilmiah, namun penuh humanisme, kocak, bahkan kritik yang pedas amun perlu, bak sambalado dalam hidangan Minangkabau.
Mak Adang sengaja dibangun untuk memenuhi harapan publik tidak sebatas yang berdarah/keturunan Minangkabau, melainkan untuk semua potensi bangsa yang haus akan kekayaan khazanah sastra dan kebudayaan yang bernilai tinggi.
Sebelum mengeluti dunia jurnalistik dan olahraga, sebenarnya Andi Mulya sudah sangat lama menaruh perhatian besar pada sastra dan kebudayaan Minang. Hanya saja, minat dan perhatiannya itu belum mendapat tempat dan momentum sampai lahirnya Mak Adang.
Setelah lahir Mak Adang.com, media ini akhirnya menjadi seperti muara dari seluruh pemikiran sastra dan kebudayaan Minang Andi Mulya. Banyak tulisan, artikel, hasil riset serta sinopsis buku yang dituangkan di media ini. Pelan-pelan esainya dengan tajuk Catatan Harianku yang rutin terbit di facebook, bisa dinikmati di website tersebut. Kini jumlahnya sudah 1.600 lebih. Andi mencantumkan nomor setiap ia membuat catatan baru.
Terinspirasi oleh temannya Ampera Salim, ia mengikuti pula gaya tulisan Mak Uniang jo Simalanca, tentang parodi kisah aktual. Berbahasa Minang lucu dan menggelitik, kadang menjadi kritik pedas bagi yang mengerti. Parodi itu menganalogikan presiden menjadi seorang pak wali, DPR adalah lapau, anggota kabinet adalah pandeka atau parewa.
KISAH SITUJUAH BATUA: GUGURNYA PAHLAWAN CHATIB SULAIMAN
Sebagai wujud syukur, Andi Mulya mendorong Ampera menginisiasi seminar dan peluncuran buku tersebut dengan ada akhir Juni lalu di Pondok Darul Ulum, Batusangkar, menampilkan Yulfian Azrial sekaligus editor dan penerbit.
Sebagai pembahas utama mengatakan Sastra Minang bagi orang awam adalah sekedar hiburan. Tapi bila mengerti topik yang dibahas, ia adalah gagasan, kritik, bahkan narasi konyol tentang perangai pejabat. “Jadi ada teks untuk dibaca, ada konteks berkaitan peristiwa hangat saat itu,” katanya dalam seminar.
Tidak heran berkat media komunitas yang begitu intens dan peduli pada budaya dan kesusastraan Minang ini, Andi Mulya akhirnya mendapat penghargaan prestisius dari pemerintah.
Pada Selasa 26 Mei 2026, sesuai Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Nomor 163/BANPEM.BPPB/G/05/2026, Andi Mulya mendapat penghargaan dari Pemerintah RI cq Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Dikdasmen RI sebagai salah satu penerima apresiasi 40 tahun berkarya bidang sastra !!
Waow, di mata saya, Andi Mulya kini tidak lagi hanya seorang jurnalis, dan doktor dengan disertasi jurnalistik olahraga. Tetapi telah bermetamorfosa menjadi seorang sastrawan Minang yang diperhitungkan. Dari jaman ke jaman, banyak sastrawan lahir dari Tanah Minang. Sebut saja zaman Balai Pustaka, kita mengenal nama nama seperti Marah Rusli, Abdoel Moeis, Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, Nur Sutan Iskandar.
Lalu zaman 45, kita mengenal nama Chairil Anwar, Asrul, AA Navis, Taufiq Ismail, Wisran Hadi, dan era kontemporer kita mengenal Ahmad Fuadi dan Akmal Nasery Basral. Maka di era Gen Z yg didominasi budaya populer dan tren digital ini, kita mengenal sesosok sastrawan muda yang masih fresh dan sedang naik daun. Beliau adalah Datuk Dr. Andi Mulya.
Proficiat Datuk !! Jangan kasih kendor…(*)