logo mak-adang.com

Siaran Pers (08) MENGAPA RANDAI MAMPU SIHIR PENONTON

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     18/06/2023    Siaran Pers   476 Views
Siaran Pers (08) MENGAPA RANDAI MAMPU SIHIR PENONTON

Begini ‘The Story of Malin Kundang’ Tampil di TIM.

Siaran Peres

Mak Adang.com, JAKARTA.  Pertunjukan seni tradisi Minangkabau ‘menghipnotis’ penonton yang memadati Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Penonton terkesima dan enggan beranjak dari tempatnya selama pertunjukan berlangsung.

“Penonton memeuhi 250 tempat duduk, ada yang datang dari jauh, seperti Belanda dan Malaysia bahkan tiket masuk Rp 2-2,5 juta juga habis dipesan,” kata Sastri Bakry, dalam siaran pers yang diterima Mak-Adang.com, Sabtu (17/6).

Mahakarya Randai II 2023 “dengan kisah The Story of Malin Kundang ini adalah kolaborasi dua seniman terkemuka di Indonesia, yaitu Jose Rizal Manua dan Joharsen.

Direktur Pengawasan Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan

Kebudayaan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Dikdik Sadikin, menyatakan The Story of Malin Kundang sungguh luar biasa

Pertunjukan ini mengisahkan kisah legendaris Malin Kundang yang tetap relevan dengan kondisi masa kini, terutama dalam konteks bagaimana cara memelihara anak di era digital. Cerita Malin Kundang memiliki kaitan erat dengan isuyang dihadapi bangsa terkait generasi milenial.

Sekjen DPP SatuPena Indonesia, Satrio Arismundar, juga memberikan komentarnya usai pertunjukan. Ia mengatakan bahwa Mahakarya ini mengingatkannya pada acara International Minangkabau Literarsi Festival (IMLF) yang digelar pada akhir Februari 2023. IMLF sebenarnya membahas tentang kekayaan budaya Minangkabau.

“Budaya Minangkabau ini mampu bertahan dan tetap relevan dengan perkembangan zaman, bahkan di era digital seperti sekarang ini,” ujar Satrio.

Satrio juga menyanjung generasi muda Indonesia yang terlibat sepenuhnya dalam pertunjukan ini. Mereka tampil dengan totalitas, memukau penonton, dan memberikan harapan bahwa budaya dan tradisi Minangkabau akan terus lestari dan relevan di masa depan.

Kekaguman juga datang dari Capt. Dato Professor Emeritus Dr. Hashim Yaacob, yang pernah menjabat Rektor di lima universitas Malaysia. Hashim menyatakan setelah menyaksikan Mahakarya II Malin Kundang ini. Ia berharap pertunjukan semacam ini terus dilanjutkan.

Jose Rizal Manua (kiri) usai mengawaki Mahakarya Randai II.

Ke Belanda
Produser Mahakarya II, Sastri Bakry, mengajukan pertanyaan mengapa kita selalu membahas anak durhaka dalam tradisi Minangkabau. Padahal, fenomena anak durhaka juga terjadi di luar Minangkabau, bahkan di Sumatera Barat sendiri. Sebaliknya juga ada kenyataan ibu yang ‘durhaka’ atau tidak santun kepada anaknya.

“Saya ingin menghadirkan seni pertunjukan berbasis tradisi Minangkabau dengan sentuhan kontemporer,” katanya.

Mahakarya II ini adalah didukung oleh para profesional muda Minangkabau yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya, serta anak-anak Sumatera Barat yang memiliki bakat di bidang seni dan datang dari Padang.

“Mahakarya randai yang diinisiasi oleh Yayasan Sumbar Talenta Indonesia (ke YSTI) juga akan dibawakan ke Belanda,” ungkap Sastri Bakry, yang juga menjabat sebagai Ketua DPD SatuPena Sumatera Barat.

Antusiasme terhadap pertunjukan ini terlihat dari terjual habisnya tiket masuk walau harga tinggi. Bahkan menjelang dimulainya pertunjukan, masih banyak orang yang berusaha memesan tiket. Sastri menyampaikan rasa terima kasih kepada semua yang telah menyaksikan pertunjukan ini, termasuk mereka yang datang dari jauh.  Bagi yang tidak berhasil mendapatkan tiket masuk ke ruang Teater Kecil TIM, pihaknya menyampaikan permohonan maaf yang tulus. (andi mulya)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *