logo mak-adang.com

IN MEMORIUM: USTAZAH TITIS ‘UPIK’ ANUGERAH, MENGABDI DALAM DIAM

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     3/08/2026    Uncategorized   22 Views

Bukan tentang siapa yang hebat, tapi tentang siapa yang bisa menghargai. Semoga nanti akan selalu dirindukan.”

Mak-adang.com (JAKARTA).

Siang itu saya berdiri di teras Masjid Raya Rao-Rao. Bersandar di tiang dan keramiknya yang sejuk itu. Sementara di depan saya, dibangunan berlantai dua, sedang ramai murid SMP. Tepat saat itu mereka sedang perpisahan. Tak lama kemudian saya berkenalan dengan Prof. Elly Martati, salah seorang pembina MTs Thawalib itu. Titis, kepala sekolah, kemudian datang berdiskusi. Sebentar saja,dan tak lupa kami berfoto bersama. Kenangan tahun 2018 itu segar kembali sejak kemaren. Titis dalam keluarga di panggilan Upik. Kolega memanggilnya Ustazah.

Kenangan :  Link : Facebook Titis Anugerah 21 Mei 2026

Sabtu malam, 1 Agustus 2026, sekitar pukul 21.00 WIB, kabar itu menyebar dari Padang. Satu per satu telepon berdering, pesan WhatsApp saling diteruskan, dan orang-orang mulai mengucapkan kalimat paling berat yang diucapkan seorang muslim. Telah berpulang ke rahmatullah Ibu Titis Anugrah binti Dasril Abdullah Yasin, Mandahiliang Aia Lalok, dalam usia 47 tahun, di RSUP M. Djamil Padang.

Ia bukan sekadar seorang guru. Selama enam belas tahun, sejak 2010 hingga 2026, Titis mengemban amanah sebagai Kepala MTs S. Thawalib Darul Huda Rao-Rao. Belasan tahun bukan waktu yang singkat. Di dalamnya ada ribuan hari mengurus murid, mendampingi guru, menyelesaikan administrasi, membangun sekolah, sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.

Kini semua itu telah berhenti. Yang tersisa hanyalah doa. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa beliau, melimpahkan rahmat-Nya, menerima seluruh amal ibadah serta pengabdian yang beliau persembahkan sepanjang hidup, dan memberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Nan Paliang Baru:   PENDIDIKAN STANDAR KETIKA NEGARA ABAIKAN

Keluarga

Bagi masyarakat, beliau adalah kepala madrasah. Namun bagi keluarganya, Titis adalah seorang anak, seorang istri, dan seorang ibu yang hidupnya hampir seluruhnya dipersembahkan untuk orang lain.

Ibu dari Upik tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Ibunya, Rosbalizar, lebih dikenal dengan panggilan Bali atau Etek Bali. Dari garis keluarga besar, Titis adalah cucu Sahari, keturunan Rusan atau Ande Rusan, saudara kandung Pakiah Saliah Digul, anak kedua Mak Urai di Koto.

Beliau menikah dengan Arif dan dikaruniai tiga orang anak. Anak sulung sedang menempuh kuliah semester enam. Anak kedua baru saja diterima di Universitas Negeri Padang. Si bungsu masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar.

Seperti banyak ibu lainnya, pikiran selalu lebih dulu terdengar kepada anak-anak dibandingkan dirinya sendiri. Bahkan menjelang akhir hayat, beliau masih mengurus kebutuhan anak keduanya yang akan mulai hidup di rumah kos di Padang. Dalam rangkaian aktivitas itulah dia jatuh, lalu menjalani perawatan hingga akhirnya Allah SWT menciptakannya.

Kaba Rancak: BUKU MAK UNIANG DAN SIMALANCA (Kesan dan Analisa Saya)

Sampai pukul 11.00, saya belum beranjak dari duduk. Memandangi siaran lansung media sosial tentang suasana rumah duka. Salah seorang keluarga besar Ttitis mengisahkan perubahan yang mereka rasakan beberapa bulan terakhir.

“… Amai sejak turun ko kayaknyo jadi beban mental dan pikiran. Amay ko ndak pernah sakit, Mak. Makonyo kami kaget Amai kanai serangan jantung ….”Itu adalah kesaksian keluarga, bukan vonis. Namun bukti itu menunjukkan bahwa mereka melihat beban batin yang dipikul seorang ibu yang selama ini lebih banyak memilih diam daripada mengeluh. Diam itu rupanya pernah terekam dalam tulisan-tulisannya sendiri.

Di laman sosialnya, pada 21 Mei, Titis beliau menulis, ” Bukan tentang siapa yang hebat, tapi tentang siapa yang bisa menghargai. Semoga nanti akan selalu dirindukan. ” Di kesempatan itu sambil mobilnya terus berjalan ada umpan kata: ” Jatuh ke titik terendah. Namun aku masih bisa. Tak semua kegagalan harus disesali .” Lalu kalimat yang kini terasa begitu dalam maknanya,

Setiap perjalanan adalah sebuah cerita. Tapi tidak semua cerita perlu diceritakan. ” Barangkali, hanya Allah yang benar-benar mengetahui cerita yang tidak pernah selesai beliau ucapkan.

Pengabdian.

Ada pemandangan yang mengundang renungan ketika jenazah akan diberangkatkan menuju Masjid Raya. Di depan rumah duka, Ketua Perhimpunan Kepala Sekolah Swasta Kabupaten Tanah Datar menyampaikan Seremoni.

Kami ada 53 kepala sekolah swasta di Tanah Datar. Kami ketuanya, dan Ustazah Titis adalah bendahara kami.

Kalimat itu sederhana, tetapi membuka fakta yang selama ini mungkin tidak diketahui banyak orang. Selain memimpin madrasah, Titis juga dipercaya memimpin organisasi para kepala sekolah swasta tingkat kabupaten. Amanah itu tidak diberikan kepada orang sembarangan. Ia diberikan kepada orang yang dipercaya.

Mungkin karena memang begitulah cara Titis bekerja. Ia tidak banyak berbicara tentang dirinya. Ia tidak pandai membangun pencitraan. Ia tidak menonjolkan sorotan. Ia memilih bekerja dalam diam. Orang-orang baru mengetahui luasnya pengabdiannya justru ketika beliau telah tiada.

Pada proses peluncuran pemakaman, sebagian masyarakat juga mencatat tampaknya tidak ada penghormatan resmi dari sekolah yang belasan tahun dipimpinnya. Tidak terlihat juga karangan bunga dari yayasan. Beberapa bulan sebelumnya, beliau memang telah diberhentikan dari jabatan kepala madrasah.

Peristiwa itu memunculkan berbagai percakapan di tengah masyarakat. Tentu setiap lembaga memiliki kebijakan dan pertimbangannya sendiri. Namun di sisi lain, masyarakat juga memiliki harapan bahwa jasa panjang seorang pendidik akan selalu dikenang dengan rasa hormat yang layak. Pengabdian belasan tahun adalah bagian dari sejarah sebuah lembaga, dan sejarah tidak seharusnya hilang hanya karena pergantian jabatan.

Sebenarnya, ukuran seorang guru bukanlah seberapa lama ia duduk di kursi kepala sekolah. Ukurannya adalah berapa banyak murid yang menjadi manusia baik, berapa banyak ilmu yang terus hidup, dan berapa banyak doa yang mengalir setelah ia tiada.

Hari ini, jabatan itu telah selesai. Ruang kerja itu telah berganti pemilik. Namun jejak pengabdiannya tidak ikut dikuburkan bersama jasadnya.

Ia tetap hidup dalam ingatan murid-murid yang pernah diajar, di hati para guru yang pernah berjalan bersamanya, di dalam doa anak-anaknya, dan di sisi Allah sebagai amal yang terus mengalir, insya Allah.

Selamat jalan, Ustazah Titis Anugrah. Engkau mungkin tidak pernah meminta dikenang. Namun orang-orang baik memang tidak membutuhkan panggung untuk meninggalkan jejak. Mereka cukup hidup dengan keikhlasan, lalu wafat dengan membawa doa dari orang-orang yang pernah disentuh kebaikannya.

Semoga Allah SWT menempatkan almarhumah di tempat terbaik di sisi-Nya, melapangkan alam kuburnya, menjadikan setiap ilmu yang diajarkan amalan yang tiada putusnya. (***)

Nan Viral:  Link 40 Tahun Berkarya: Daulat.co dan SK Badan Bahasa  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *