logo mak-adang.com

Kabar Dari Turkiye (14): TAK TERASA HAMPIR LIMA TAHUN BERLALU

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     14/01/2026    Kaba Ari ko,Kabar dari Turkiye   254 Views
Kabar Dari Turkiye (14): TAK TERASA HAMPIR LIMA TAHUN BERLALU

Mak-adang.com (JAKARTA).

PADA 7 JANUARI, sepekan sebelum HUT Afiq ke-24, ia berangkat ke Istanbul. Kali ini Afiq memandu dua orang istimewa: Prof. Desrina, sepupu saya, dan Mas Prof. Bambang Haryadi.

Mungkin ini pertemuan Afiq pertama kali dengan Ni Rina dan Mas Bambang. Namun tali darah dan bincang-bincang yang mendekatinya sama seperti di masa kecil Ni Rina terasa sangat peduli dan mengayomi kami.

Perjalanan Afiq ini terekam dalam Catatan Harian saya setiap ia Ultah. Dari tahun ke tahun tak pernah kami berada bersama. Sama seperti setiap Idul Fitri. Hari penting yang ia berada di rantau yang jauh.

Catatan itu lahir dari jarak, rindu, dan keyakinan bahwa hidup memang harus dijalani setahap demi setahap.

Misalnya, pada 13 Januari 2016, Catatan Harianku (107), menulis saya di Rawamangun. Saat itu Afiq masih belasan tahun. Hari ulang tahun dilalui tanpa kue dan lilin. Ia baru saja mendaftar ke pondok pesantren. “Yang penting Allah ya Malikul Mulki selalu mencapai hati dan jalan kita,” tulis saya waktu itu.

Ayah dan anak berada di fase yang mirip: sama-sama kembali ke kampus, sama-sama menancapkan cita-cita. Bahkan ditarik lebih jauh, ke tahun 2001, saat Afiq masih dalam kandungan dan jalan pendidikan ayah juga penuh liku. Doa Atuk, Nenek, dan Andung mengalir sebagai bekal. Harapannya sederhana: bisa menyapa Afiq kelak saat ia menuntaskan studinya. Begitu goresan saya 10 tahun yang lalu.

Pada 14 Januari 2023, di Catatan Harianku (1047), saya menulis pukul 03.47 di Citayam. Tentang detik-detik kelahiran Afiq 21 tahun sebelumnya di Nagari Gurun, Harau, dikenang kembali. Dari bidan Aci, subuh, dan tangis bayi, kisah itu meloncat hingga ruang ujian.

“Tadi siang… bayi itu sedang diuji ilmu matematika,” tulis saya, Merujuk Afiq yang kini mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sakarya. Hidup, seperti kelahiran, selalu berisi ujian yang meninggi sebelum akhirnya melahirkan fase baru.

Laptop dan rendang yang sampai tepat di hari ulang tahun menjadi simbol kecil tentang rezeki yang datang tepat waktu. Pesannya tegas: terus membaca Alquran dan menjaga tahajud—membuka pintu langit dan menantang keadaan.

Tahun lalu, 14 Januari 2025, Kabar dari Turkiye (11), Afiq sedang berada di Bandara Sabiha Gökçen (SAW). Milad ke-23 berlangsung di antara check-in dan pengumuman penerbangan. Afiq diminta mengurus 12 tamu tanpa pemandu. “Dan dia minta orang Indonesia,” katanya.

Kepercayaan itu bukan hadiah instan. Ia tumbuh dari kebiasaan Afiq yang mampu mengemudi dan memiliki SIM Internasional, memahami rute, Bandara, logistik, hingga jaringan orang-orang lintas bangsa. Dari pelajar, Afiq pelan-pelan belajar menjadi profesional. Sunyi, tanpa sorak.

Rangkaian ini dilengkapi pada bulan September lalu, saat Aziz, adiknya, datang berkunjung dari Saudi. Pertemuan dua bersaudara itu sederhana, tanpa seremoni. Namun kehadiran Aziz menjadi pengingat kuat tentang rumah. Bahwa sejauh apa pun Afiq melangkah—Turki, Istanbul, bandara, kampus—ada ikatan darah yang selalu menunggu dan menguat.

Milad 24.
Afiq perjalananmu terlihat tenang, lancar, dan penuh ikhtiar. Sepertinya tidak ada gejolak yang berarti. Padahal kami di rumah saja yang tahu, Afiq pernah mengalami kerugian juga kecelakaan.

Namun kita sama merahasiakan. Seperti harapanmu: “Jangan ceritakan sama bunda yah.” Begitu pintamu kala setahun yang lalu. Pas ayah di kampung.

Ayah hanya berkata: “Apapun kesulitannya, hadapi Afiq.”

Ayah menambahkan lagi: “Ada yang lebih sulit selain musibah dan bencana, yakni perang.”

“Bila itu terjadi, itupun harus dihadapi,” begitu ayah menguatkan.

Sekarang tanpa terasa tahun ini semoga Afiq sudah lulus. Harapan ke depan tak muluk: tahun depan mudah-mudah sudah bekerja. Mungkin juga pindah negara. Eropa tetap menjadi cita-cita. Jerman harapannya.

Dan bila kelak jaraknya semakin jauh, namun ada doa yang tak pernah alpa. Ia selalu sampai. Yakni dari Ayah, Bunda dan adik-adik yang mungkin tak selalu berada di sisimu. Namun namamu tak pernah lupa dalam setiap sujud dan tahajud malam kami.

Selamat ulang tahun, Afiq.
Kamis, 14 Januari 2026
10.41.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *