logo mak-adang.com

SUKU ATAU BANGSA KARO: Penilaian dan Kesan Pribadi Saya

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     7/09/2025    Buku,Kaba Ari ko,Kearifan Lokal   212 Views
SUKU ATAU BANGSA KARO: Penilaian dan Kesan Pribadi Saya

Oleh: Andi Mulya
Alumni S3 UNJ, Pemimpin Umum

Mak-adang.com .

Sejak menetap dan menjadi wartawan di Jakarta saya sudah mengenal beberapa tokoh Karo. terutama pengusaha.

Ketika itu saya beranggapan orang Karo adalah kelompok suku Bataknya yang tinggal di Sumatera Utara.
Kemaren saya mengetahui rekannya di Duri, Riau, Denny Winson menghadiri acara Pesta Kebudayaan Karo di Medan.

BANGKIT : Tokoh Karo di Medan inisiator Pesta Kebudayaan Karo 2025, kemaren (foto dw).

Ada poster tentang peluncuran buku sejarah yang menyebut bahwa orang Karo bukanlah orang Batak. Juga bukan suku tapi Bangsa Karo. Menurut saya ada sesuatu yang menarik untuk diketahui: mengapa dan benarkah?

Bagi saya ini adalah gejala masyarakat lokal yang ‘bangkit’ di tengah, saat ini, beberapa nagari di kampung saya Tanah Datar, malah sekarang terjadi kemerosotan. Orang Karo, hemat saya, sedang menunjukkan literasi budaya yang kuat. Di dalamnya terdapat sebuah karya penting, yaitu buku “Bangsa Karo dari Masa ke Masa dalam Dokumentasi Lukisan dan Foto” serta “Mburo Ate Tedeh Masyarakat Karo Kota Medan.”

Dihadiri Ketua DPRD Kota Medan, Drs. Wong Chun Sen Tarigan, yang juga orang Karo. Walikota Medan selain hadir juga diangkat sebagai warga terhormat Orang Karo. Acara diadakan di Hotel JW Mariot Medan.

Walaupun saya tidak bertemu langsung dengan mereka, hanya menghubungi melalui Denny dan membaca pesan berita yang dikirimkan saya justru mengikuti dan ingin membaca buku dimaksud.

Sejak kemaren saya sempat menulis singkat tentang Orang Karo. Sebagai catatan sosiologis, untuk sementara saya memakai istilah Orang Karo.

Lebih Kompleks.
Banyak orang mengenalnya Orang Karo melalui masakan dan upacara adat yang meriah. Sejarah dan kehidupan sosial Karo jauh lebih kompleks.

Catatan antropolog klasik seperti JH Neumann (1896) dan M. Joustra (1907) menggambarkan Karo sebagai masyarakat yang hidup dalam sistem marga atau merga si lima: Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, Sembiring, dan Tarigan. Penggabungan kelima ini bukan sekedar garis keturunan, melainkan identitas sosial, hukum adat, bahkan penentu dalam perkawinan. Prinsipnya jelas: sesama merga tidak boleh menikah (eksogami). Di sini kita melihat bagaimana sistem kekerabatan Karo menjaga keseimbangan sosial, mirip dengan sistem marga pada masyarakat Batak Toba namun dengan kekhasan tersendiri.

Kehidupan masyarakat Karo sejak lama bertumpu pada pertanian. Ladang jagung, padi gogo, dan sayuran di dataran tinggi bukan sekadar sumber pangan, melainkan basis ekonomi sekaligus arena sosial. Clifford Geertz (1963) pernah merasa bahwa pertanian di pegunungan Sumatera menampilkan daya adaptasi luar biasa terhadap lingkungan vulkanik. Letusan Sinabung yang berulang kali memaksa warga Karo mengungsi, namun mereka kembali lagi, seolah gunung dan tanah adalah bagian yang tak terpisahkan dari identitas.

Dalam penyelidikan lapangan, wartawan sering menemukan paradoks: Karo adalah masyarakat terbuka pada modernisasi, namun tetap teguh pada ritual adat. Upacara perkawinan adat kerja tahun, misalnya, masih dilaksanakan dengan biaya besar dan partisipasi kolektif. Di sisi lain, generasi muda Karo banyak yang merantau ke Medan, Jakarta, bahkan luar negeri, membawa identitas Karo ke ruang-ruang global.

Dalam percakapan dengan Denny kemaren saya mengetahui bahwa asal Kota Medan diberi nama oleh orang Karo.

Penyebaran Orang Karo juga terdapat di beberapa negara Asia. Dari nama marga terlihat mereka berasal dari India, seperti Marga Brahmana. Seperti juga nama tokoh Karo salah satu penggagas acara ini.

Religius .
Kehidupan religius Karo juga menarik. Sebelum masuknya Kristen dan Islam, mereka menganut Pemena, sebuah kepercayaan asli yang menekan hubungan manusia dengan roh leluhur dan alam. Kini mayoritas umat Karo beragama Kristen Protestan, sebagian Katolik, serta ada yang Muslim. Namun unsur Pemena tetap hidup dalam simbol dan ritus—seperti sesajen pada pesta adat.

Penelitian Sibarani (2012) menegaskan, kearifan lokal Karo masih menjadi modal sosial penting, terutama dalam menyelesaikan konflik melalui musyawarah adat (runggun). Hal ini menampilkan bagaimana tradisi mampu berdialog dengan demokrasi modern.

Dengan demikian, sejarah dan kehidupan suku Karo bukan sekadar kisah etnografi, melainkan refleksi tentang bagaimana sebuah komunitas menjaga identitas di tengah tekanan zaman. Seperti Sinabung yang kadang murka, kadang hening, Karo selalu berusaha berdiri di atas tanah leluhur mereka, dengan tegak namun lentur. (***)

Referensi :

Neumann, JH (1896). De Karo-Batak. Leiden.

Joustra, M. (1907). Het Karo-Bataksche Volk.

Geertz, Clifford. (1963). Involusi Pertanian.

Sibarani, R. (2012). Kearifan Lokal Masyarakat Batak Karo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkait