DAS menjaga makam bagai menjaga bayi. Selama 40 tahun sudah pria asal Rambatan Batusangkar ini melokoni pekerjaan ini. Selama itu pula ia membagikan sumbangan sukarela untuk biaya hidup, dan racun pembasmi rumput. Bekerja dalam keadaan sepi, jasanya baru mengingat menjelang puasa. Sekali setahun. Ikuti bagaimana mimpinya. Betulkah Makam layaknya bayi.
Mak-adang.com, (DURI)
Ahad, 15 November siang, hujan turun sejak waktu sholat dhuha. Udara sejuk ada petang hari. Peziarah di Pemakaman Umum (TaPU) Imam Bonjol, Duri tak seramai tahun lalu.
“Tapi makin sakit makin ramai pak,” jawab seorang muda petugas parkir.
Hanya 10 motor yan diparkir di pintu gerbang. Hal itu mempengaruhi menurunnya penjualan air dan bunga dadakan di pinggir jalan.
Begitu turun, papa langsung menyebu, : “Lai ado si Das.” menanyakan seorang laki-laki penjaga makam.
Lelaki yang bernama Dailami.itupun menyyahut : Lai, artinya ada.
Uda Das, begitu saya.panggil membimbing papa ke kuburan nenek. yang tahun ini tepat 50 tahun wafat.
40 Tahun ‘berdinas.’
Das asal Rambatan, Tanah Datar. Sukunya Mandaliko Koto, dekat Simpang Dolok. Tapi takdir membawa merantau ke Kota Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.
Sejak tahun 1986, Dailami—yang akrab dipanggil Das—memilih hidup di antara batu nisan.
Sudah empat puluh tahun lebih ia menjaga makam itu. Tidak ada rumput tinggi. Tidak ada semak pembohong. Tanahnya rata, nisannya bersih. Peziarah datang silih berganti. Mereka tahu, makam ini terpelihara.
Das punya tujuh anak dan lima cucu. Untuk menghidupi keluarga, ia ditopang oleh keikhlasan warga. Dengan karung ia datang dari rumah ke rumah..
Beras setekong (sekaleng susu kental manis) itulah iuran sukarela warga. Dari satu rumah ia dapat satu tekong. Dari rumah lain, bisa 2-4 tekong.
“Sudah berapa bulan tak datang?” begitu tanya warga yang jujur membayar jasa keringatnya. Oh sudah empat bulan. Baik ini empat tekong. Ditambah pula uang Rp 10.000 . Begitulah ia mengisahkan.
Sekali jalan, ia bisa membawa pulang 15-20 kilogram beras. Ada tujuh kelurahan di Duri. Das membagi 20 kali perjalanan/berkeliling.
Tapi ada pula yang enggan memberi karena kerabatnya dimakamkan di Jambon, bukan di Imam Bonjol.
‘Pensiun.’
Beberapa tahun Pemerintah Kabupaten Bengkalis memberi bantuan Rp1,6 juta per bulan. Namun dihentikan karena usia Das sudah lebih dari 60 tahun. Ia dianggap ‘pensiun’.
Tapi bagi Das menjaga makam adalah panggilan, pengabdian, dan amanah.
Sejak itu, sepenuhnya bergantung pada keikhlasan warga dan peziarah. Seperti mendekati masuk puasa ini. Di pintu masuk makam, ia menaruh katidiang—kotak bambu tempat sumbangan.
“Uang ini untuk membeli roundap, untuk bunuh rumput,” jelasnya. “Supaya tak tinggi. Lihat, tak ada rumput yang tinggi, kan?” Begitu sambil.menunjuk ke arah makam..
Peziarah tahu. Mereka melihat sendiri kerja Das. Maka mereka tetap rela, tetap ikhlas membayar. Bukan karena diwajibkan, tapi karena percaya.
Mimpi bayi dan amanah.
Kisah Das tak berhenti pada beras dan roundap. Saya menanyakan sebannyak ini makam, apakah tidak ada arwah yang datang dan menggangu?”
“Insya Allah tidak,” jawabnya.
Tapi awal di sini memang terjadi sekali. Ia bermimpi tiba di penghuni makam. Ramai-ramai memprotes mereka.
“Kalau masuk ke sini, berwudu dulu,” kata suara-suara itu dalam mimpinya.
Das bangun dengan keringat dingin. Masih dalam mimpi itu, ia segera berwudu. Udara mengalir di wajahnya. Ia merasa bersih. Tapi setelah itu, muncullah seorang lelaki yang menyerahkan seorang bayi ke tangannya.
“Saya bingung,” kenangnya. “Kenapa ada bayi di kuburan?”
Sejak mimpi itu, ia memaknainya secara berbeda. Menjaga Makam, katanya, seperti memelihara bayi.
Bayi itu tak bisa bicara. Tak bisa membersihkan diri. Tak bisa menuntut. Tapi wajib menjaganya.
Begitulah ia melihat makam-makam itu. Sunyi, tak bersuara, tak bisa protes. Maka ia yang harus peduli.
“Ini amanah,” katanya. Pemerintah boleh saja mempensiunkannya. Tapi Das tahu, amanah tak mengenal batas usia.
Selama tangan masih bisa memegang cangkul. Selama kaki masih bisa melangkah di antara nisan. Selama hati masih tergetar setiap kali membaca doa, ia akan tetap berada di sana.
Menjaga kesehatan seperti menjaga bayi. *** (andi mulya)
