logo mak-adang.com

Catatan Harianku (98): SURAT UNTUK MAMAKU

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     22/12/2025    Catatan Harianku,Kaba Ari ko   80 Views
Catatan Harianku (98): SURAT UNTUK MAMAKU

Mak-adang.com 

10 Tahun lalu ini digoreskan.  Walau satu windu,  tapi tetap  saja relevan.  Berikut  ini lengkapnya. 

Mama
Kata orang hari ini hari besarmu.
Betapa rugi mereka merayakannya, kataku.

Mereka muliakan semua ibu
Seperti di Negara Barat yang jauh
Sekali setahun mereka ingat ibu

Mereka ucapkan kasih dan rindu
Tapi hari ini saja Ma. Sampai jam 24.00 malam ini berlalu.

Mereka rugi tapi tidak pernah mengaku. Mereka anak durhaka Ma. Hari ini mereka ingin bersimpuh.

Betapa tidak Ma. Ada hari 364 hari lainnya setahun ini. Berlalu tanpa sesal dan maaf.

Ma juga papa. Aku abdikan diri dan seluruh waktu sepanjang ku mampu. Hari ini dan esok sampai tiada batas.

Aku tahu Ma dan Papa ingin aku hebat. Tapi bukan uang satu satunya ya Ma. Sebagaimana aku kecil dulu.

Aku kecil dengan empat adik perempuan itu. Mamalah menjaga dari subuh hingga subuh

Mama penat. Apakah aku ini pembantu. Kalimat Mama kala itu. Karena tidak ada pembantu. Tukang cuci dan tukang asuh.

Mama sendiri menjagaku. Mama tidak kuat tapi kami tidak pernah lapar dan haus.

Masakan Mama sebagai wanita Minang yang hebat tak bisa aku cari ganti di mana pun. Walau cukup uangku untuk itu.

Aku ingat induk ayam kami di sini. Mengejar seperti peluru di saat anaknya terpekik di bawah intaian predator yang lapar.

Seperti itulah dirimu Mama. Tidak kuat sebenarnya. Tapi demi anak… batin mu berkata semua harus ada.

Semua harus bisa. Walau langit akan runtuh. Dan tiada kata mundur. Walau, walau berisiko hancur.

Banyak sekali yang ingin ku sebut Ma. Tapi di Stasiun Pondok Cina Ui ini air mataku terlanjur jatuh.

Ramainya orang. Bapak, ibu, mahasiswa, juga anak- anak di sini.. tak tau bahwa aku
rusuh. Mengapa hari ini hari Ibu?

Sebagaimana anak mereka juga bertanya mengapa ibu memberi hadiah di Hari Anak? Apakah di hari lain kami ini batu?

Betulkah kami ini emas, permata, atau sebangsanya. Kami emas yang dititipkan pada si Mba, si Mbo, si Uwak sewaktu Ibu bekerja.

Mereka rayakan ini sehari penuh. Padahal tanggung jawabku padamu sepanjang hayat. Sekuat aku bisa mendoakanmu.

Itu pula sebabnya Ma. Aku menelpon tiap hari. Atau datang sesering mungkin. Karena di masa kecilku nyaman di pangkuanmu.

Aku jadikan anakku seperti diriku kecil dulu Ma. Ibu mereka yang sederhana mencuci, memasak, mengajar mengaji.

Tempat mereka mengadu, menangis, bermanja, juga melawan dengan protesnya. Aku terdiam, begitulah mungkin aku dulu. Mereka belum tahu.

Juga mengantar dan menjemput ke sekolah. Tugas yang tak ringan sehingga usai Isya Ibu mereka terpapar lelah.

Mamaku. Kata papa seperti dalam novelku Mak Adang dari Nagari Keramat itu.. nama Mama berarti cahaya mataku.

Tepat sekali Ma. Bukan hanya cahaya mata Papa Ma. Tapi mata semua kami. Mataku.

Kulihat Ma. Anak anak sampai orang dewasa. Matanya kuyu bila ingat Ibunya. Aku orang hebat yang kaya Ma. Mataku tak satupun mampu menantangnya.

Setiap yang ku baca mampu ku tulis jadi buku. Dan ini Ma buku yang terbaru. Kemaren ISBN nya.

Dan hampir di setiap buku ku. Ada nama Mu. Nama baik Ma. Tapi belum mampu membayar jasa mu.

Allahu Akbar.

Stasiun Pocin 221215

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *