logo mak-adang.com

Kabar dari Turkiye (13): SETELAH TIGA TAHUN BERLALU

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     11/02/2026    Kaba Ari ko,Kabar dari Turkiye   35 Views
Kabar dari Turkiye (13):  SETELAH TIGA TAHUN BERLALU

 

Mak-adang.com (JAKARTA)

Pada tanggal 9 Juni 2024 lalu adalah hari terakhir ujian Afiq. Lazimnya masih ada satu dua minggu ke depan kampus masih buka. Setelah itu, seperti tahun pertama libur musim panas. Afiq mengambil semester pendek dua mata kuliah.

Tahun berikutnya, karena sudah memiliki pengalaman dan akses, Afiq bekerja baik di pabrik coklat, pertama kali, maupun menjadi pemandu wisatawan di Istanbul yang membawa beberapa kali berkeliling kota-kota penting seperti Copadokia, Makam Alfatih, dan bermain salju di beberapa tempat.

Tahun ini, qadarullah Afiq sudah punya tiket pulang sebelum ujian. Dibeli di akhir bulan Mei. Bila masuk bulan Juli, harganya menjadi tinggi, bisa selisiilh Rp 1.5- 2 juta.

Praktis tanggal 13 Juni Afiq berangkat dari Istanbul, setelah tiga tahun berada di Bumi Khilafah itu. Pada tanggal 14 Juni, sehari kemudian hanya bertiga bersama Aisyah kami menunggu Afiq di Terminal 3.

Dulu bayang-bayang covid masih terasa saat Afiq berangkat. Bimbang rasanya apakah Afiq lancar pulang ke Indonesia. Saya memasang niat puasa sunat dua hari bila Afiq selamat. Demikian pula bundanya.

Walau Afiq sampai pukul 14.00, kami sudah berada di Terminal 3 sejak zuhur. Kemudian satu kali salah arah, sehingga harus pindah ke parkir yang bertingkat itu..

Perasaan ini sudah waktunya Qatar Air mendarat, tapi ternyata masih menunggu lama. Satu persatu orang sudah bertemu saudaranya. Kami masih mencari -cari dimana Afiq. Apakah yang tadi lewat lewat kaca.. Oh ternyata tidak.

Saya berusaha mendekati dinding kaca, saat Afiq tampak melintas. Lalu saya menelepon. Tapi dia tidak mendengarnya. Sambil meloncat bahlan tepuk kaca. Barulah setelah dekat Afiq terlihat, sambil hpnya tetap mevideokan pertemuan itu.

Serasa tak percaya bisa bertemu setelah tiga tahun berlalu. Beberapa teman tidak ada yang menduga Afiq sudah tiga tahun di sana. Serasa baru kemaren, setahun atau lebih katanya.

Pertemuan yang baru satu-satunya saya alami sepanjang hidup. Tiga tahun ternyata ia sudah tinggi besar. Rambut gaya milenial yang tentu berbeda dengan waktu saya menjadi mahasiswa IKIP Padang seumurnya, yang cepak berkemeja. Jarang sekali bercelana jeans.

Bundanya karena bawaan, terharu flash saja. Tapi saya tidak bisa menolak turunnya air mata. Kemudian kami berjalan menuju parkir. Afiq menggendong Aisyah.

Saat saya mengambil mobil Afiq menunggu di bawah, ia berkata: “Afiq tidak menyangka Ayah menangis nda.”

“Ya. Supaya Afiq tau tak ada yang perjuangan dan keikhlasannya seperti Ayah,,” kata bundanya ditirukan beberapa lama kemudian.

Kami meluncur pulang melewati tol BSD dan keluar di Pamulang. Di Bojongsari ada masjid bagus yang sering kami singgahi bila Afiq libur dari pesantren. Bekal nasi bungkus dari rumah kami makan di teras masjid.

Usai makan terasalah ini hari baru. Hari dimana keempat anak kami ada di kota yang sama. Teringat selalu kami tidak pernah berfoto bersama tiga kali lebaran Idul Fitri dan Idul Adha.

Teringat pula Afiq tidak hadir wisuda S3 saya sehingga tidak pernah terwujud memodifikasi foto bertoga itu ke teman ahli desain.

Teringat pula di profil facebook saya tidak menampilkan personil yang lengkap. Saya tidak pula mau menggantinya beberapa lama.

Malam ini, saya sengaja memajang profil baru yang diambil di Duri, tanggal 8 Juli 2024, saat mudik liburan tempo hari. Masih ada foto bersama lainnua saya memakai toga dan lrngkap mama dan papa. Foto, yang menurut saya satu saat akan sangat berharga.

Malam ini, tibalah malam terakhir dengan Afiq karena besok magrib akan berangkat ke Turki dengan penerbangan Qatar Air tapi transit Doha 8 jam.

Kebersamaan yang berharga telah kami dapatkan sehingga tak terasa hampir lima bulan Afiq di rumah. Praktis saya tidak pernah menulisnya meskipun banyak sekali cerita dsri Afiq. Bahkan Afiq berkata ada dua orang temannya yang ingin sekali bertemu dengan saya.

Ibrahim, sebut saja begitu namanya, kata Afiq ingin bertemu Ayah setelah Afiq cerita ayah dulu KKN di kampung Bunda dan berjodoh. Hehe seru juga kali kalau kalau dibahas ya Dedi Irwandi guru.

Sedang Farhan, teman Afiq satu lagi, ingin jumpa saya sejak Afiq memuat edaran saya sebagai narasumber bersama Pak Bung Zulham Unj setahun lalu.

“Lu biasa aja, ayah lu Doktor Fiq,” begitu kata Farhan penuh hormat.

hehe. Ternyata ayahnya tetap disangka lebih hebat, meski seusia Afiq sekarang paling jauh tahun 1990-an hanya sampai Jogya dan Jakarta.

Inilah kebersamaan yang saya sebut sebagai prestasi. Bukan prestasi atas jabatan dan kedudukan. Juga tidak dianugerahi sertifikat yang tempo hari saya foto dengan kopi pagi. Kadang kadang saya bertanya apalah arti semua (sertifikat) ini. Menempel di dinding belakang dapur kami. Kalau semuanya saya pajang, termasuk buku sampul portofolio yang pernah saya tulis, mungkin dinding rumah ini tidak cukup menampungnya. Selain itu saya ekstra punya dana untuk promosi atau pemasaran CV tersebut.

Jadi bagi saya kebersamaan ini, sekali lagi prestasi. Sekaligus sebagai pengantar kisah Afiq merantau kali kedua. Pergi untuk merebut ijazah untuk empat semester lagi.

Aamiin.

Jakarta. 6 November 2024