logo mak-adang.com

Catatan Harianku  (1630): KISAH ALAT TUKANG PAPA

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     19/04/2026    Catatan Harianku,Kaba Ari ko   35 Views
Catatan Harianku  (1630): KISAH ALAT TUKANG PAPA
Alat tukang adalah petunjuk cara hidup seseorang. Secara antropologi alat ya g dipakai menunjukkan karakter, sikap, dan watak, termasuk ketahanan dan kekuatan fisik. Apakah hubungan semuanya. Ikuti pengalaman tentang papa berikut ini.

Mak-adang (JAKARTA).

Apakah dusanak, kisanak punya hobi yang sama dengan saya.

Ini kebiasaan alami yang saya tiru dari papa. Maestro dalam kisah Anak Minang Perantau yang berasal dari nagari para saudagar. Walaupun sudah menjadi Sarjana Muda Ekonomi Universitas Andalas, tahun 1968, papa akhirnya mengubah haluan: berdagang tekstil. Kain bameter kata orang nagari keramat itu.

Ada dua tempat penyimpan barang-barang milik papa. Pertama tas kulit yang dibeli di Singapura, awet sampai kini dan sudah saya masukkan dalam cerita novel Mak Adang dan Tragedi Bunga Setangkai. Kedua, kota kayu penyimpan alat pertukangan. Dibuat sendiri bentuknya seperti tas juga. Dikunci dengan kuro-kuro, atau gembok kata anak milenial.

Warnanya krem ​​muda. Disana papa menaruh gergaji, ketam, kikir, pahat, termasuk kaleng berisi kain perca yang digulung dan diberi minyak goreng bekas. Untuk melicinkan gergaji.

Setiap barang yang diambil di kotak itu, harus diletakkan kembali sesuai letak semula. Papa terbit suga kalau barang atau alat yang dicari tidak bertemu. Saya menjadi paham papa Setelah mendalami antropologi di Pascasarjana UI.

Sesuai ajaran Parsudi Suparlan, orang seperti apa memerlakukan barang-barang miliknya sama dengan dirinya. Jadi kalau alat yang dimiliki tidak bertemu, ia tidak bisa bekerja. Bekerja adalah kehidupan bagi orang seperti papa.

Alat saya ini, selalu saya bawa kalau pulang ke Duri, seperti dua kali dalam empat bulan ini. Apalagi di sini saya setiap datang. Ada aja saja yang nanti bisa saya kerjakan atas orderan papa. Teakhir papa meminta menggerinda semua alat yang tajam: pisau, golok, cangkul, irisan, sula, dan memotong besi pengaman bak air.

Jadi, sudah seumur saya papa memelihara barang pertukangannya. Tapi tentu saja manual. Bukan listrik atau bor yang bisa di cas seperti saya punya.

Bukan karena papa tak bisa. Tapi soal rasa, karena tangan papa tidal sensitif lagi bekerja alat berkecepatan tinggi. Termasuk menjahit karena alat perabanya sudah kebal.

Ditambah lagi mata yang buram karena usia. papa harus meraba-raba semua benda apalagi di dalam kotak kayu di gudang dekat dapur. Lampu harus menyala meski siang hari, sebab mata papa hanya 30% terangnya.

Pernah suatu kali, seseorang mencari apa, papa keluar dari gudang itu. Kemudian ia keluar mengambil pucuk singkong. Sambil ia remas-remas, papa berkata, salah memegang pisau yang tajam, sehingga menusuk luka karena tak melihatnya.

Saya merasakan menjadi orang usia lanjut seperti papa sangat berat. Sebab mata kurang terang. Semangat dan ikhtiar saja yang membuatnya kuat. Karena selalu berolah raga dengan mencabut rumput dan menanam yang ia suka, papa memang tersiram matahari setiap hari. Itu yang membuatnya selalu fit. Jadi soal sehat, ya sehat-sehat orang tualah. Begitu pameonya.

Kasih sayang Tuhan saja yang membuatnya selalu terpelihara. Ini misalnya. Satu kali papa pergi ke pasar. Ia membawa beberapa kilo coklat untuk dijual. Bila beroleh uang Rp 150-200 ribu, papa akan berbelanja beragam makanan.

Siang itu, sudah jam 14.00 papa belum juga pulang dari pasar. Kami sudah cemas. Akan disusul ke pasar atau sepanjang yang biasa dilalui. Tapi saat kecemasan meninggi, papa pulang dengan ojek, yang nampaknya orang itu sudah kenal papa.

Tanpa tahu kami cemas, papa turun sambil mengepit tas kainnya. Ia membeli kerupuk ubi, pisang buai, susu anlene, tak lupa kipang dari Sumbar.

Ini, tunjuknya memberikan kepada saya. Saya terpana dan langsung mengambil kipang yang memang rasanya enak.

Kipang itu dari tangan papa yang usianya 86 tahun. Tangan yang biasa bertukang untuk keperluan sendiri. Termasuk menggendong saya tahun 1980 saat sakit kuning pulang dari rumah sakit Caltex, kala belum ada ojek. Juga tangan yang sering terluka termasuk saat meraba alat tukang yang tajam di kotak kayu itu. Sehat selalu pa.( andi mulya ).***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *