logo mak-adang.com

Orang-Orang Sumatera (1): MAK LEPAI SI ORANG KAYA

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     20/12/2025    Catatan Harianku,Kaba Ari ko   63 Views
Orang-Orang Sumatera (1): MAK LEPAI SI ORANG KAYA

Catatan Harianku (1618)

Mak Adang tulisan menurunkan bersambung mulai hari ini. Nantikan setiap edisi selalu ada cerita yang anda cari. Selamat mengikuti. 

Pada pukul 18.03 kapal yang saya tumpangi mencium bibir pulau Sumatera: Bakauheni. Penyeberangan yang tidak biasa. Sumatera yang dingin dan muram.

Hari itu mestinya saya sudah berada di Monas. Kalender menunjukkan 2 Desember 2025. 212: gerakan moral yang rutin saya ikuti. Baik hadir maupun mengikuti beritanya.

Kendati kini tidak ada momen sebagai pelatuk bahwa 212 cukup penting. Pada akhirnya saya tahu tak ada hal spesial dari perkumpulan itu. Meski aparat tetap aman, dan sejumlah ruas jalan dialihkan. Ini di Jakarta. Atau di Jawa, kalau orang Melayu menyebut seberang Pulau Sumatera ini.

Sementara pada detik ini, Bus TAM yang saya naiki kapal bagai melompat dari. Perjalanan dua hari satu malam dimulai. Angin Selat Sunda seakan menampar dari luar wajah saya: asin. Di perbincangan, ada bukit yang menunggu dengan bangunan berwarna kuning emas.

Tapi ino bukan tanah pulang yang ramah. Melainkan Bumi Andalas yang sedang murung. Dari kapal, saya seperti membaca wajah pulau itu: letih dan penuh tanya.

“Inilah Sumatera,” batinku.
Pulau yang sabar, tapi tak pernah berhenti diuji.

AsiaToday.id merangkum data pemerintah mencatat 604 jiwa meninggal, 464 hilang, dan ratusan ribu orang mengungsi.

Tempat saya melaju magrib ini adalah dua tempat yan diapit dua doa maha dahsat. Di Jakarta, 212 Monas ada gema takbir dan spanduk, doa-doa yang meninggi ke langit. Di Kota Baru, Lampung ini, ada Ijtima Ulama. Acara yang dihadiri 43 negara, dan 2 juta orang berkumpul melaksanakan dakwah.

Sumatera dan Jawa sama-sama berdoa, kata orang. Tapi doa adalah milik semua. Sementara air mata selalu punya alamat.

Di Sumatera Tengah: Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh, bencana datang bertubi: banjir, galodo, longsor—rumah hayut, sawah lenyap, nyawa tak sempat pamit.

Orang Dulu.
Dulu, tahun 1989 sejak saya menginjakkan kaki di Kota itu, saya bertemu dengan pemimpin daerah yang visioner, arif-bijaksana, adil dan berwibawa.

Mahasiswa mengidolakan mereka. Usai memimpin  mereka ditarik ke Jakarta. Menjadi menteri dan disegani. Di ibu kota, ia menjadi tokoh nasional. Tapi jangan lupa mengayomi sesama. Jangan lupa kacang dengan kulitnya.

Mak Lepai.
Lalu zaman berganti. Orang-orang bijak seperti dulu tak dapat ditemukan lagi.

Sebut saja salah seorang misalnya. Mak Lepai namanya. Asal usulnya tidak jelas. Mengakunya berasal dari Nagari Tuo. Tapi gelar pusakanya dapat dari nagari rantau. Di akhir masa berbunyi pula tokok bahwa gelar pusaka itu sebenarnya tidak berhak untuknya. Gelar yang ‘dibeli.’

Mak Lepai adalah orang pilihan. Ia memenangkan banyak pertarungan modern untuk kekuasaan. Prinsip demokrasi ia agungkan, tetapi sifat lain yang ia tegakkan. Tak banyak tahu dia sangat licin. Sebab ia melindungi dibalik wajah yang seperti sangat lurus. Mata sayu seperti mau mati. Tapi liat dan tajam seperti jarum.

Ia memiliki orang-orang yang setia. Sehingga ia tetap terpilih. Setelah Lunas menunaikan tugss, istrinya dikader pula untuk menduduki jabatan penting. Pangkat makin tinggi, harta dan kekayaan makin menumpuk. Peluang selalu diambil, Termasuk mendaftarkan nama untuk bersaing di negeri tetangga.

Agama adalah perisai. Utamanya adalah mengajak orang untuk berbuat baik. Dakwah namanya. Sehingga orang tidak boleh berlalai-lalai. Termasuk bermusik dan bernyanyi. Tapi bagi dirinya semua boleh. Karena semua birahi sudah tercapai. Pangkat, jabatan, kekayaan, gelar pusaka, gelar sebagai orang besar, dan nama besar.

Galodo.
Hari ini, di masa Galodo, Mak Lepai tak tampak kontribusinya.
Ia tak tampak di tepian sungai yang meluap. Tak ada di rumah warga yang runtuh. Juga di ladang yang hilang.

Ia menangani indomie dan relawan. Tapi tak sebanding dengan harta yang ia tumpuk selama ini.

Tak sebanding dengan kicuh-kecong yang ia ambil untuk pribadi dan lembaga miliknya. Karena ia tahu celahnya, mengerti mekanisme, piawai menyelipkan kemauan.

Mak Lepai adalah orang-orang Sumatera pertama yang saya kenal lama. Paradoks yang telanjang yakni orang terhormat yang sebenarnya tidak memberi tapi mengambil. Bahasanya rapi, kakinya tak pernah basah saat galodo datang. Alim di depan kamera, fasih mengutip ayat, namun gagap ketika menghadapi bencana.

Sumatera sedang tenang. Bukan karena gundulnya hutan dan beringasnya sungai. Tapi lihatlah orang-orangnya.

Dan dari bus yang baru keluar kapal di Bakauheni ini, saya tahu, Mak Lepai adalah salah satu contoh dari orang yang kehilangan empati. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *