Catatan Harianku ini dibuat 24 Juni 2015. Tepat 11 tahun yang lalu. Hari ini Suci akan pulang dari Pondok untuk mengikuti tes MAN2 Bogor. Sementara saya sedang perjalanan ke Sumbar untuk kegiatan di tiga luhak: Payakumbuh-Bukittinggi-Batusangkar. Lalu langsung ke Duri, melihat mama setelah tiga bulan tak bertemu.
Inilah Catatan Harianku 1-2 bulan pertama. Tak terasa kini sudah 1.600 lebih. Tak terasa pula Suci yang kini tumbuh gadis yang sangat kami cintai.
Cinta itu pula yang mendorong kami ingin bersama di usia SMA, dimana pun lulusnya, yang penting di rumah. Kami ingin ‘repot’ mengurusnya antar jemput pulang sekolah, memasakkan dan membantu membuat PR. Selama di pondok semuanya dikerjakan mandiri.
Di awal tulisan ini perlu kami sampaikan bahwa itu adalah ucaan Bang IS. Kode senior di Bisnis Indonesia yang sangat diperhatikan. Sampai hari ini ia selalu mengikuti tulisan-tulisan saya. Terima kasih Bang Pemred. Walau lama sekali tak bertemu. Salam.
Mak-adang.com (SUNGAI RENGAS, M. Bungo).
“Mungkin sudah belasan tahun saya, termasuk teman-teman, hampir tidak pernah berbuka di rumah,” kata satu senior di tempat awal saya bekerja sebagai wartawan ekonomi dan bisnis di Jakarta, 1995 lalu.
Saya teringat lagi kata-kata itu usai magrib tadi. Tak putus-putusnya aku mengucapkan syukur, dimana usai berbuka kami magrib berjamaah. Kemudian menemani Suci yang belajar Iqra bersama bundanya sejak 3 bulan lalu, dan kini sudah masuk Iqra 3.

Usai baca Iqra.
Inilah pemandangan ruang tengah yang apa adanya kami tinggalkan usai itu, demi menunaikan buka puasa lanjutan. Berhubung awal mahrib tiba-tiba kami terbiasa hanya minum air putih, teh manis, dan buah.
Khusus hari ini ada timun suri hasil ladang tetangga depan rumah, penduduk asli yang menanamnya di kebun-kebun sekitar Citayam yang banyak dimiliki orang-orang yang tinggal di Jakarta. Saya teringat Sukarno yang menemukan konsep ekonomi kerakyatan yang disebut Marhaenisme, yang kini jarang dipahami juga diterapkan di bumi merdeka. Tetangga saya itulah Marhaen hari ini, yang tidak punya lahan yang cukup, tapi hidup tidak bisa memilih kecuali bertani.
Timun suri adalah lambang yang masih menjalani 10% lahan pertanian di Citayam yang kini sudah beralih fungsi menjadi perumahan.

PESAN NASEHAT: hari-hari terakhir di Pondok (foto: dn8)
Kebahagian kami lengkap dengan anak-anak yang sehat dan makan minuman berbuka yang cukup. Juga, jauh seperti disebut senior di awal tulisan ini, saya sebagai ayah telah memilih hidup yang lebih sejahtera, yakni merasakan keluarga sebagai amanah yang kami asuh dan didik sendiri.
Alhamdulillah mereka tumbuh baik dengan semangat belajarnya sendiri. Termasuk Suci yang berusia 4 tahun ini menjadikan buku Iqra’ sebagai pegangannya.
Hidup baik dan buruk memang kita menentukan dan memilih sendiri. Soal kesejahteraan hanyalah soal ikhtiar. Sedangkan kesejahteraan batin diberikan kepada hati dan jiwa yang tenang.
Salam
(nagarikeramat.blogspot.com).
