logo mak-adang.com

Novel 3 Mak Adang: CUCU PERTAMA  MAK TUO

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     11/02/2026    Kaba Ari ko,Kearifan Lokal,Ota Lapau   129 Views
Novel 3 Mak Adang: CUCU PERTAMA  MAK TUO

Cerita 1

Mak Adang memuat cerita 1 dari Novel ketiga ini secara dadakan. Sebab pernah dimuat di fesbuk, baru dimasukkan ke web terkemuka ini. Tapi tulisan/cerita 1 ini lain: cerita 2 tentang Ayah Gaek Juru Tuli justru sudah dibaca banyak teman. Jadi tunggu ada cerita berikutnya ya. Selamat membaca.

Mak Tuo adalah panggilan kami kepada Nenek, yang nama lengkapnya Hj. Hindun. Di nagari lain panggilan kepada nenek sangat beragam. Mulai dari Umak, Andung, Uwaik, Niniak, dan Mungkin juga Inyiak atau Datuak. Ada panggilan untuk nenek di satu Nagari, di nagari lain dipakai untuk panggilan kakek.

Novel 3 Mak Adang : AYAH GAEK RASYIDIN JURU TULI

Demikian pula Mak Tuo. Di Nagari lain diartikan saudara ibu yang paling tua. Layaknya Bunda atau Ibu yang gede dalam bahasa Jawa.

Pada saat saya lahir, Mak Tuo berusia 61 tahun. Itu terlihat dari dokumen Rumah Kayu di Piliang Balai-Balai. Pada tahun 1963, saat Mak Tuo mulai menabung naik haji ke Mekkah, Mak Tuo berusia 53 tahun. Dokumen yang saya simpan sampai sekarang, yang berarti sudah 60 tahun lalu. Lengkap dengan foto Mak Tuo, ciri-ciri, dan pejabat Nagari Keramat kala itu. Juga cap pemerintahan Nagari, sebagai dokumen identitas Mak Tuo berangkat Haji.

Mak Tuo berangkat haji sewaktu saya sekolah dasar di SD Negeri 2 Duri, atau SD Pusat namanya. Ada foto Mak Tuo bersalaman dengan seorang Syeikh di satu tenda di Mekkah yang konon menyatakan nama baru, seperti dijelaskan Hamka dalam novelnya berjudul Ayahku.

Di Mekkah kala itu ada tradisi setiap jamaah haji yang datang disambut oleh warga Mekkah sebagai keluarga baru. Kepada merekalah semua keluh-kesah disampaikan bak wisatawan dengan pemandu (pemandu wisata). Pada saat perpisahan nama baru itu disetujui kepada guru agama setempat.

Orang-Orang Sumatera (1): MAK LEPAI SI ORANG KAYA

Mak Tuo dalam foto itu duduk dengan badan agak tegak ditopang kedua lutut. Saat bersalaman dengan Syeikh itu Mak Tuo melapisi tangan dengan sehelai sapu tangan kecil.

***

Mak Tuo mempunyai sembilan anak, yakni lima laki-laki dan empat perempuan. Adnan anak sulung pertama wafat di usia Balita. Ia dimakamkan di tanah pusaka tak jauh dari Rumah Kayu. Letaknya sebelah kanan menuju Sungai Jariang. Menurun sedikit dari Batu Mejan, batu pipih yang tingginya lebih dari 1 meter. Konong setiap batu tiba-tiba sama: ke arah Gunung Merapi.
Gunung teraktif di deretan Bukit Barisan Pulau Sumatera yang mengeluarkan abu vulkanik sehingga tanah di semua Nagari Keramat ini sangat subur.

Anak kedua Mak Tuo adalah R. Azinar yang saya panggil Mak Adang. Di bawah Mak Adang ada Mama Itu, bertugas di Puskesmas Nagari Rao-Rao.

Mama adalah anak ke lima di bawah Mak Datuk Husni Rasyid yang dipanggil Bulek karena diwaktu kecil ia menampilkan bulat atau semok. Dibawah mama ada empat adik mama, dua laki-laki yang saya panggil Mamak dan dua perempuan dipanggil etek.

Beberapa teman mama, teman etek dan mamak yang berjumpa saya umumnya mengisahkan kenangan masa sekolah dengan mama dan adik-adik.

“Aden samo sakola jo tek Asna waang,” artinya saya sama sekolah dengan Etek Hasna kamu.

“Ence na utaknyo, sapuluah-sapuluah jo ponten matematiknyo,” kata Da Pudin, anak Mak Awak, di depan kedai kain papa di Pasar Swakarya, Duri, kala itu. Artinya encer sekali otaknya. Sepuluh semua nilai matematikanya.

Sekolah dan mengaji adalah dua kata yang sering diucapkan dalam percakapan anak nagari. Mungkin ini bukti yang menunjukkan Nagari Keramat ini memiliki sumber daya manusia pembelajar. Dua kata lainnya tentu saja adalah merantau dan manggale. Menggalas kalau di-indonesia-kan gaya Hamka. Berdagang artinya.

Kata baampok, bakoa, atau maota yang kurang terdengar. Artinya berjudi dan tajam bila ada pelakunya diucapkan terbatas sesama pemain mereka saja.

Jumlah pemuda atau bapak-bapak yang berkoa, misalnya hanya dibawah 10% dari jumlah penduduk nagari. Mereka yang maniak atau gila koa mungkin bisa dihitung dengan jari. Paling banyak 10 orang atau beberapa kelompok pemain. Tapi bakoa adalah permainan anak muda nagari.

Semua orang wajib sholat sesuai perintah Allah dan Nabi SAW di nagari yang adatnya basandi syara,’ syara’ basandi Kitabullah: Al-Qur’an. Tapi sepertinya ada peraturan tidak tertulis anak muda harus tahu atau mengerti bakoa. Koa adalah lambang seorang bisa bergaul.

Orang-orang di nagari ini taat beragama. Masjid penuh saat sholat Jum’at. Beberapa saf kalau Isya. Tapi lepau bisa ramai sampai larut malam.

Dalam lingkungan pergaulan kamoung seperti itulah Mamak-mamak saya tumbuh sebagai orang terpelajar. Maksudnya mereka semua bersekolah tinggi, tapi tak ada yang pakoa, paota atau duduk di lepau berlama-lama. Paburu yakni berburu dengan anjing yang dipelihara bagai memelihara anak, seekor bahkan empat lima ekor seperti di beberapa nagari.

Mamak datang silih berganti ke kampung, sekolah kemudian merantau. Mak Adang yang berhasil di Jakarta lalu membawakan Mama Itu yang saat itu telah lulus sebagai bidan. Mama itu pernah bekerja dan tinggal di Jalan Budi Kemuliaan daerah Tanah Abang, yang bila diteruskan ke arah Monas bertemu dengan Patung Kuda atau Bank Indonesia.

Mak Adang kemudian pindah ke Medan. Mak Datuk, Mama dan satu Etek juga ikut ke sana. Mak Datuk saat itu sudah lulus PTPG Batusangkar dan menamatkan di Fakultas Penddiikan Ilmu Sosial IKIP Padang. Jadi ia datang mencari kerja di Medan. Mama pernah kuliah tapi kemudian tidak tamat. Etek menjadi guru kehormatan sambil kuliah di IKIP Medan.

Mama kemudian pulang ke kampung, dan dipertemukan ayah Gaek Haji Rasyidin dengan berjodoh dengan papa yang waktu itu bekerja sebagai pegawai toko di Jalan Hiligoo Padang. Minat belajar membawa terus kuliah di dua tempat yaitu IKIP Padang yang terhenti karena menjadi tenaga PBB untuk pemberantasan Malaria. Kemudian masuk sekolah sore (ekstensi) D3 Ekonomi Universitas Andalas.

Saat menikah dengan mama, papa sudah berumur 28 Tahun. Masih bekerja di Toko, dan terus menamatkan kuliah sehingga bergelar BA, atau sarjana muda ekonomi. Gelar yang tidak pernah dia pasang di KTP meski saat itu masih langka yang lulus sekolah di kampung.

Keluarga baru dicapai mama dan papa dengan tidak mudah. Pertama karena perjuangan untuk kehidupan atau ekonomi. Kedua karena berpisah dan berpisah tempat tinggal karena mama menetap di kampung. Papa bolak-balik sekali sebulan dari Padang. Kondisi kesehatan, juga psikis menyebabkan mama pernah mengalami keguguran.

Tiga tahun lebih setelah menikah baru Mama beroleh satu anak laki-laki. Mama menyebut anak laki-lakinya anak yang sangat dinanti.
Saat itu cucu Mak Tuo lainnya dari Mama Itu adalah tiga perempuan yang saya panggil Uni.

Dari mama, lahir satu cucu laki-laki Mak Tuo. Menurut cerita Mama, Mak Tuo memandikan cucunya dengan menidurkan di atas pahanya. Sambil ia menyebut : “Iko bisuak nan ka maantaan den ka kubua.” Artinya ini anak yang nanti mengantarkan saya ke liang kubur.

Papa memberi nama Andi Wendarto. Agar sedikit kejawa-jawaan. Tapi kemudian entah kenapa saat sekolah sudah berganti saja dengan Andi Mulya.
Cucu laki-laki pertama Mak Tuo itulah yang lahir Hari Selasa, malam hari, pada 5 Januari 1971.

Hari ini, 54 tahun yang lalu.
Al-Fatihah Mak Tuo Hajjah Hindun. Allahumma firlaha warhamha. Sorga terbaik bagimu. Aamiin.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *