logo mak-adang.com

Catatan Harianku (48): ALHAMDULILLAH, WALAU TIDAK JADI SUCI DAPAT ADIK KEMBAR

 Dr. Andi Mulya, S.Pd., M.Si.     27/08/2026    Catatan Harianku,Kaba Ari ko   14 Views
Catatan Harianku (48):  ALHAMDULILLAH, WALAU TIDAK JADI SUCI DAPAT ADIK KEMBAR

Mak-Adang.com menampilkan kenangan di  efbi 27 September 2011 lalu. Berikut lengkapnya.

USG itu akhirnya memberi tahu bahwa tak jadi Suci beroleh adik kembar.

“Janin tidak berkembang, dan ada dua (kembar),” kata dokter Jumadi di Klinik AB Citayam pukul 09.00.

Lalu Dok? Saya memburu ingin tahu. Tidak ada pilihan lain harus dikuret.

Bagi saya.. ini adalah Bulan Agustus 5 tahun lalu yang sama, yakni perjuangan Suci yang lahir 3 September. Suci kala itu harus lahir diujung pilihan harus normal atau caecar. Bayangan risikonya bagai di depan mata.

Jauhhhhh… terbayang hari-hari yang tidak mudah ke depan. Apalagi saat Bundanya kala itu berkata : “kalau terjadi apa-apa sampaikan maaf saya pada Afiq dan Aziz, saya sering memarahinya.” Pesan yang mudah dinalar, tapi tak mudah diterima. Dua putra kami yang kala itu masing-masing SD kelas 2 dan 5 tahun.

Saya lunglai seketika, sementara final piala dunia sepakbola tak lagi menarik di tonton. Saya tak sanggup menjawabnya. Dengan mata seakan tenang ke TV, butir putih itu jatuh juga akhirnya.

Saat lahir, Bulan Ramadhan ke 23, atau 2 September malam saya menemani sendiri Bundanya melahirkan. Karena ibu mertua kala itu menunggu Aziz dan Afiq di rumah.

Jam 7 pagi, begitu perkiraan dokter. Tapi Suci lahir pukul 3.17 menit. Dengan berat 3,13 kg. Kala saya lihat ia perempuan seketika saat tali pusar mau diputus, lalu melihat kaki dan tangan yang sempurna, saya bersyukur penuh doa di tengah raungan yang tidak lunak volumenya. Lama terduduk di bangku kayu Klinik di depan Komplek Depag Citayam itu.

Suci tadi pagi kami antar ke TK Aldena, jalan menuju pasar tempat Klinik AB. Kami lewati lagi TK nya pada pukul 9.00 lebih. Ia masih belajar sampai pukul 11.00.

Mengingat ia tahu akan punya adik, dan suka mengelus perut ibunya, saya ingat kata-katanya sayang pada adik. Tapi USG menunda kegembiraan itu. Apalagi ketika tahu ia adalah calon anak 4 dan ke 5 kami. Apalagi Afiq yang di Pondok belum tau kejadian ini. Afiq yang mulai paham agama, malah pernah berkata : “kalau bisa punya 7 bersaudara, suka ramai dan banyak adik.”

Afiq berkata itu kepada Bundanya saat saya masih berlebaran sendiri bersama mama dan papa di Duri, tak jadi pulang bersama karena kabar pemeriksaan klinik adanya adik baru ini.

Sejak dari tadi di klinik AB, spontan saya haru bukan main kalau memang beroleh anak kembar. Air bening mulai menggenang, sambil TK suci kami tinggalkan.

“Tetap Alhamdulillah, mana tahu Allah akan memberi yang lebih baik, dan mengambil yang kembar ini sebagai kehendaknya yang juga baik bagi kita,” saya mencoba menghibur diri.

Di belokan Kali Pesangerahan, 100 meter dari rumah yang airnya menuju ke daerah Ciledug, walau tidak dilihat Bundanya, genangan air di sudut mata itu pun tumpah. Saya masih menguasai diri. Dan segera berwudhu’ sholat dhuha. Sekaligus tujuan saya tidak terlalu terlihat basahnya mata karena sedih.

Rasa syukur Allah memberi tahu lebih cepat dan sehari-hari Bunda menjalaninya biasa. Tidak ada keluhan apapun.

Rasa syukur, karena dengannya pula Allah menambah nikmat, seperti janjinya. AAMIIN.

SELAMAT ULANG TAHUN SUCI

(3 September 2015)

Salam kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *