Senin (9/2) Aziz bertemu dengan Uni Azizah Taher di halaman Masjidil Haram. Pertemuan pertama cucu dan cicit mak tuo Hajjah Hindun. Nenek Uni Azizah di Lurah adalah kakak seayah dengan mak tuo, yaitu H. Hasan, pemilik dua Surau di Mandeliang. Bertepatan pula dengan sehari Milad Aziz ke 20. Berikut ini kisah Aziz yang saya ingat.
Mak-adang.com (Lintas JAMBI).
Kecemasan turun setiap pagi dan petang. Mulai sejak awal Februari di tahun itu. Piala Dunia (PD) menayangkan final FIFA malam itu.
Baco: KISAH SITUJUAH BATUA: GUGURNYA PAHLAWAN CHATIB SULAIMAN
Televisi 21 inci hadiah undian utama dari meliput PT KAI, saat saya jadi wartawan Bisnis tahun 1996, masih menyala. Saya menonton sendiri dengan bersandar di kusen pintu. Kaki mengunjur ke arah televisi di dalam kamar.
Tiba-tiba Bunda duduk di dekat saya. Tak lama kemudian ia berkata: ” Uda kalau terjadi apa-apa sampaikan maaf saya ke Afiq.”
Diam sejenak. Saya masih memandang siaran langsung PD terakhir.
” Karena aku sering memarahinya .” Begitu artinya dalam bahasa Minang: awak acok memberanginyo.
Kabar dari Turkiye (11): MILAD DI BANDARA SABIHA (SAW)
Tak ada percakapan.
Saya diam. Mata memang ke televisi. Tapi jangkauannya sudah seperti pertemuan hidup dan mati. Sebab kala itu Bunda yang sebentar lagi mau melahirkan didiagnosa harus operasi. Ada varises di kaki.
Belum lama setelah itu ada yang wafat melahirkan akibat pendarahan. Varises juga penyebabnya.
Mama berkata pula: ” cepat beritahu ke sini. Kalau ada apa-apa jangan karena kurang biaya lalu anak lahir tak tertolong. Berapapun biayanya .”
Air mata sudah turun. Entah si Bunda tahu atau tidak. Sementara Afiq berumur empat tahun sudah tertidur pulas.
Sesuai kalimat si Bunda, terbayang kelahiran adiknya (dicemaskan) akan menyebabkan Afiq tak punya bunda lagi setelah itu.
Seru PD tak lagi ada dalam keenam indera. Seakan televisi itu sudah ditutup kain putih. Mati.
Kabar dari Turkiye (5): Bahasa dan Ilmu Politik.
USAi itu waktu menunjukkan pukul 22.00 Wib. Saya keluar dengan sepeda motor ke Warnet di depan Stasiun Citayam. Ada karya tulis yang batas waktu pengiriman adalah malam itu. Motor saya hidupkan. Si Bunda menutup pintu saat saya izin pergi satu jam.
Pada saat itu teringatlah masa yang akan datang. Afiq yang masih kecil pasti akan dikuncikan sendiri bila ia tidak punya bunda lagi. Kata-kata minta maaf ‘kalau terjadi apa-apa’ waktu melahirkan menggores batin lagi.
Sejak itu menunggu kelahiran Bunda untuk anak kedua bak menunggu kematian. Betapa tidak, pernah satu kali si Bunda saya ajak main ke lapangan, tapi tampak ia menatap ke bawah. Tanah. Dan melamun. Saya diam saja. Tapi inikah tanda-tandanya, sebagaimana dipahami 40 hari sebelum seseorang mendahului kita, ada banyak peristiwa dan ucapannya yang khas: khusus dan berbeda. Hari-hari bagaikan berjalan hambar.
Kabar dari Turkiye (13): SETELAH TIGA TAHUN BERLALU
Kecemasan dan Tantangan .
Kesimpulan saya, keluarga kami melalui kecemasan demi kecemasan termasuk menyambut anak lahir seperti diceritakan di atas.
Mertua dan ibu Satar, adik ibu yang tak lain bagai ibu angkat saya sejak KKN di sini, datang ke Jakarta. Mengapa?
Suatu malam saya pernah menelpon ibu Satar menceritakan hari-hari yang kami lalui. Tiba-tiba percakapan saya terhenti. Ibu Satar menduga saya menangis. Memang begitulah keadaan sebenarnya. Awalnya ibu mertua saya tidak akan datang ke Jakarta. Tapi semua mendorong dan tergerak untuk ibu segera datang. Bahkan ajakan kuat datang dari ibu Satar sendiri.
Bila Afiq lahir di Payakumbuh, banyak keluarga berkumpul, kecemasan tidak terlalu tinggi.
Begitulah sampai pada petang hari, di bidan terdekat, saya antarkan Bunda ke bidan di Puri Bojong Lestari. Malam hari ada rasa sakit. Tapi saya memperkirakan kelahiran pada hari esok, 9 Februari.
PERGINYA LAMBANG KECAKAPAN SDM NAGARI YANG SERBA BISA
Kalau tepat lahir di tanggal itu berarti nama awalnya Anwar. Begitu kata saya dalam hati. Singkatan dari Anak Wartawan. Tinggal memberi tambahan Mulya. Namaku.
Itu terinspirasi cerita Minang di Tabloid Limbago bersama Ampera Salim. Seorang istri tidak tahu suaminya diterima bekerja. Ia membawa koran karena rajin membaca. Saat anak mereka lahir diberi nama Anwar Talim. Singkatan Anak Wartawan Tabloid Limbago. Anak lahir dua hadiah sekaligus.
Tapi ternyata pada malam 8 Februari pukul 23.57, anak kedua itu lahir. Seketika itu juga saya menyebut namanya : Muhammad Aziz Mulya. Saat itu, bahkan sehari setelah ia lahir saya masih meliput berita untuk koran bisnis yang terbit di Medan.
Bisa jadi, melalui anak kedua ini petanda bagi saya bekerja menjadi wartawan satu saat akan ditinggalkan. Itupun terbukti profesi wartawan membludak dengan terbitnya banyak koran di era reformasi. Tapi koran termasuk media terbesar dalam dan luar negeri memasuki musim gugur. Sejak era media online, apalagi ada AI/chatgpt saat ini, memuat dan mencari berita dengan sangat mudah. Yang tidak ada adalah harga dari berita yang ditulis. Orang tidak perlu membaca koran untuk mengetahui sesuatu.
Fenomena itulah yang saya pahami sejak Aziz, putera kedua saya ini lahir.

Peduli
Afiq karena anak pertama mungkin lebih wibawa dan berjiwa pemimpin. Tapi Aziz sangat peduli dan perhatian.
Ada beberapa peristiwa yang saya uraikan singkat soal itu. Pertama , Aziz mudah akrab dengan tukang yang kami ajak bekerja memperbaiki dapur.
Saya lihat sendiri meski berumur empat tahun, ia langsung mendekati duduk saat tukang mau menarik benang di tanah. “ Mau pasang ini ya Bang ?” sambil tangannya ikut merapikan.
Saya baru sadar Aziz perhatian karena Mas Sugi mengyakancerita Zainal adiknya yang ikut bekerja kangen sama Aziz.
Denganku lain lagi. Aziz mendekat saat saya memotong mengoceh bambu di dapur. Lalu kena pipinya sedikit karena datang dari belakang saya menyesal karena wajah tidak boleh dicubit atau tergores karena kulit wajah sangat halus. Kalau luka akan membekas sampai dewasa.
Perhatian Aziz tak berhenti di situ. Saat kelas 1 SD, Aziz ikut ramai-ramai dengan sebaya mengangkat pasir dengan gerobak. Rumah penduduk di belakang bila memesan bahan bangunan harus dibongkar di halaman masjid. Dengan gerobak, anak-anak membawa pasir seperti bermain dan bergembira. Aziz semangat soal itu.
Usai selesai dua jam ‘pekerjaan’ pemilik memberi anak-anak sebaya Aziz Rp 5.000 per orang. Aziz pulang mestinya dengan senyum. Tapi kali itu tidak. Sebab sendal Aziz putus. Kalau dibeli Rp 6.000. Aziz rugi. Begitulah setiap orang suka membantu sering pula ujian penuh.
Ada dua kali Aziz cedera yang paling haru. Pertama ada vila pinggir Puri belum menginstal. Lampu tamannya pecah. Aziz namanya anak-anak menyalakan tiang besinya sekitar tiga meter. Ternyata koslet. Aziz jari-jarinya terluka juga terbakar.
Ia pulang sambil menangis. Saya mengobati dengan memberi antibiotik. Dan ctm usai dibersihkan dan menyuruhnya istirahat.
“RM Aziz Jatuh.”
Ada yang lebih tragis dari itu. Aziz pulang bersepeda dengan tujuh titik penuh lecet dan luka.
Kening dan pelipis, dua siku tangan, satu siku lutut, panggul sebelah kanan dan ibu jari kaki yang berdarah.
Teman-temannya datang. Lalu bercerita Aziz jatuh terguling beberapa kali dengan bersepeda lepas tangan. Tempatnya di pintu masuk satu perumahan baru yang menurun tapi bergelombang.
Aziz terpelanting saat stang sepeda berbelok patah dan menurun sehingga terguling mengenai siku, lutut, pinggang dan kening serta pelipis.
Saya langsung mengobati sendiri dengan mengurutkan minyak kelapa dan bawang. Rahasia obat luka Fatimah Jamal (Fatimah Ence) guru agama sezaman dengan Muhammad Natsir.
Alhamdulillah Aziz sehat. Saya memahami Aziz sangat heroik. Setelah jatuh ia masih bisa bersepeda pulang. Dan menutup kening dan mata saat melewati banyak orang yang ramai masuk gang rumah kami.
Sejak saat itu, bila ditanya dimana beli nasi bungkus RM Kurai Taji menjelang Tugu Macan, kami menyebut di tempat Aziz jatuh.
Kini .
Aziz lahir beberapa bulan setelah saya wisuda S2 Universitas Indonesia.
Meski dibalut kecemasan tapi kami tetap tumbuh sebagai keluarga baru yang menanam cita-cita tinggi. Jika tidak ada rasa cemas, saya mencari tantangan baru yang harus dihadapi, seperti melanjutkan S3.
Tidak ada yang istimewa kecuali kami memahami apa yang menjadi tujuan hidup. Tujuan itu saja yang dituju dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Salah satu ucapan Milad dari teman Aziz.
Seperti Afiq tumbuh dengan cara yang berbeda, Aziz mengikutinya dengan cara yang berbeda. Itu tercermin dalam tulisan Aziz di buku kumpulan artikel santri Darunnajah sekira tahun 2020. Buku itu berkisah tentang pengalaman menjadi santri baru.
Aziz menulis lebih kurang seperti berikut: Perasaan penuh bimbang dan ragu saat diantar pertama kali masuk pondok. Pikiran serasa tidak di badan saat mobil yang dikenderai ayah memasuki gerbang Darunnajah 8.
Tapi, tulis Aziz, aku ingin menunjukkan aku bisa seperti Afiq, abangku. Senior yang kala itu sudah menjadi OSNDN, OSIS-nya pondok yang juga bertanggung jawab-jawab belajar sore.
Tulis Aziz lagi, saat berpisah ayah selalu mencium kepala dan keningku. Sama seperti tiap kali diantar ke sekolah SD.
Ayah berkata akan datang sepekan ke depan.
Walau kami dekat ke Pondok. Aziz teringat rumah, ayah dan bunda, hari pertama sholat Magrib. Apalagi saat sholawat dilantunkan dan ratusan santri berkumpul di masjid. Kehidupan santri baru dimulai.
Tepat sepekan kemudian kami datang. Aziz menulis : tiba-tiba aku melihat mobil yang sangat aku kenal. Nampak ayah dan bunda juga dua adikku Suci dan Aisyah.
Tiba-tiba ayah bertanya: “kenapa menangis?”
Aziz menjawab: “Ngak papa,” sambil air matanya jatuh.
Dalam buku tersebut Aziz munulis ia terharu karena sudah seminggu tidak melihat bunda.
Saya menikmati tulisan Aziz ini. Pada bagian tersebut, setiap membaca saya pun meneteskan air mata.
Saya merasa Aziz lebih mudah untuk menulis. Mungkin suatu saat ia akan menulis tentang aku, berjudul, Sang Penulis: Ayahku. Seperti Hamka menulis tentang ayahnya Haji Rasul. Sesuatu yang mungkin saya ingin tahu penilaian seorang anak tentang ayahnya.
Bakat Aziz menulis agaknya tampak saat belajar mengarang di Pondok waktu kelas 1. Dalam tempo sekejap Aziz sudah menyelasaikan karangan. Mungkin 1-2 halaman buku.
Guru bertanya mengapa cepat sekali. Aziz menjawab ia sudah biasa melihat bagaimana Ayah menulis novel.
Hari ini Aziz belum menulis banyak hal pengalamannya selama delapan bulan di Arab Saudi. Ia juga sudah ke Turki ke tempat Afiq dan ke Qatar 10 hari Desember lalu.
Di laman Medsosnya berlatar Kakbah Aziz menulis sangat menyentuh hati. Persisnya sebagai berikut:
“Bertambahnya usia di tempat yang paling mulia. Di hadapan Kakbah. Ulang tahunku bukan tentang kue dan lilin. Tapi tentang doa, harapan, dan masa depan.
Semoga Allah mengampuni yang lalu. Memberkahi yang kini, dan menjadikan langkah ke depan yang lebih baik. Aamiin.”
Hari ini Aziz adalah seorang yang bercita-cita dengan bekerja. Soalnya Aziz tidak mau usai tamat SMA kalau tak keluar negeri, seperti abangnya.
Allah seakan mendengar doanya. Tak lama setelah mengabdi di Darul Ulum Batusangkar Aziz bekerja dan berangkat sebagai Mutawif Umroh Travel Berkah Utama.
Satu istimewa terjadi. Hari ini saat tak ada ayah dan Bunda di persahabatan, Uni Azizah berjumpa di Masjidil Haram dengan Aziz. Sekaligus membawa titipan rendang yang saya.
Aziz dan Uni Azizah serta rendang adalah lambang dari silaturahim yang kuat.
SELAMAT MILAD DUA DARSAWARSA AZIZ
( Andi Mulya )
Catatan:
04.21 70% tulisan selesai dalam perjalanan Jakarta-Duri. Diterbitkan di Duri, 10 Februari 07.20.
